A Boy Friend
The worst part in friendship-with-a-boy thingy is when he has a girlfriend.
Sadar atau tidak, dia perlahan berubah menjadi orang asing. Orang yang seperti tidak pernah mengenalmu dengan sangat baik. Cepat atau lambat, jarak itu akan tercipta. Meskipun dia meyakinkanmu bahwa tak akan ada yang berubah, tapi keadaan tidak berkata demikian. Jarak itu semakin lama semakin menganga lebar. Seolah mengejek, memberitahu bahwa kamu tidak lagi bisa memilikinya untuk dirimu sendiri. Dia menjadi terlalu jauh untuh direngkuh. Terlalu dingin. Terlalu.... maya. Kamu tidak lagi bisa merasakannya di sekelilingmu.
Perlahan, tapi pasti, kamu akan menyadari bahwa kamu bukan lagi prioritas dalam hidupnya. Menyadari bahwa kamu hanyalah urutan kesekian di daftar orang-orang terpentingnya. Terjun bebas, dari yang tadinya berada di urutan di bawah orang tua dan keluarganya, menjadi berada mungkin di urutan terakhir, paling dasar, paling terabaikan. Baru ditengok ketika hatinya sedang patah. Ketika dia sedang luka, sedang berairmata.
Akan ada masa dimana kamu merasa bahwa dia sudah direbut oleh orang asing, orang baru. Orang baru yang menyita seluruh perhatiannya sehingga tak ada lagi yang tersisa untuk kamu. Orang baru yang disebutnya pacar. Kamu tidak bisa lagi seenaknya bilang kangen, seenaknya bilang sayang, seenaknya menyuruhnya mendengarkan curhatanmu, seenaknya memintanya datang untuk menemanimu saat kamu sedang ingin ditemani. Tapi kamu tidak bisa dengan egois menahannya untuk dirimu sendiri. Karena, biar bagaimanapun, keadaannya tak lagi sama. Karena, ada hati yang harus ia jaga. Hati yang berharga.
Lalu kamu akan mulai merindukannya. merindukan saat-saat yang pernah terlewati bersamanya. Saat-saat kalian melakukan hal-hal bodoh dan menertawakannya bersama. Saat-saat dia bersedih dan terluka, dan hanya di depanmu dia menangis. Saat-saat dimana kamu sedang berada di titik terbawah pertahananmu, dan dia hampir selalu ada di sana, di sampingmu.
It supposed to be like that. But the situation won't be the same again.
P.S. for my dear boy friend, I miss you much {()}
Sadar atau tidak, dia perlahan berubah menjadi orang asing. Orang yang seperti tidak pernah mengenalmu dengan sangat baik. Cepat atau lambat, jarak itu akan tercipta. Meskipun dia meyakinkanmu bahwa tak akan ada yang berubah, tapi keadaan tidak berkata demikian. Jarak itu semakin lama semakin menganga lebar. Seolah mengejek, memberitahu bahwa kamu tidak lagi bisa memilikinya untuk dirimu sendiri. Dia menjadi terlalu jauh untuh direngkuh. Terlalu dingin. Terlalu.... maya. Kamu tidak lagi bisa merasakannya di sekelilingmu.
Perlahan, tapi pasti, kamu akan menyadari bahwa kamu bukan lagi prioritas dalam hidupnya. Menyadari bahwa kamu hanyalah urutan kesekian di daftar orang-orang terpentingnya. Terjun bebas, dari yang tadinya berada di urutan di bawah orang tua dan keluarganya, menjadi berada mungkin di urutan terakhir, paling dasar, paling terabaikan. Baru ditengok ketika hatinya sedang patah. Ketika dia sedang luka, sedang berairmata.
Akan ada masa dimana kamu merasa bahwa dia sudah direbut oleh orang asing, orang baru. Orang baru yang menyita seluruh perhatiannya sehingga tak ada lagi yang tersisa untuk kamu. Orang baru yang disebutnya pacar. Kamu tidak bisa lagi seenaknya bilang kangen, seenaknya bilang sayang, seenaknya menyuruhnya mendengarkan curhatanmu, seenaknya memintanya datang untuk menemanimu saat kamu sedang ingin ditemani. Tapi kamu tidak bisa dengan egois menahannya untuk dirimu sendiri. Karena, biar bagaimanapun, keadaannya tak lagi sama. Karena, ada hati yang harus ia jaga. Hati yang berharga.
Lalu kamu akan mulai merindukannya. merindukan saat-saat yang pernah terlewati bersamanya. Saat-saat kalian melakukan hal-hal bodoh dan menertawakannya bersama. Saat-saat dia bersedih dan terluka, dan hanya di depanmu dia menangis. Saat-saat dimana kamu sedang berada di titik terbawah pertahananmu, dan dia hampir selalu ada di sana, di sampingmu.
It supposed to be like that. But the situation won't be the same again.
P.S. for my dear boy friend, I miss you much {()}
http://afaninula.blogspot.com/2012/02/boy-friend.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
NO SPAMING :D